IPB dan Deptan Lakukan Panen Simbolis di Karawang

February 12, 2007 by prohumasi

Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Departemen Pertanian RI, melakukan Panen Simbolis untuk padi varietas Ciherang di Kabupaten Karawang, Rabu (31/1). Panen simbolis ini merupakan Program pengembangan Model Sistem Agroindustri dan Pemasaran Beras Berlabel di Kabupaten Cianjur dan Kab. Karawang. Acara yang mengambil tempat di Kampung Bekuh Desa Telaga Mulya Kec. Telaga Sari Kab. Karawang, dihadiri oleh Dirjen PPHP Deptan, Prof.Dr. Djoko Said Damardjati, Wakil Rektor IV IPB, Dr.Ir. Asep Saefuddin, M.Sc., Sekretaris LPPM IPB, Dr.Ir. Suharyadi, DEA., Kepala Bagian Tata Usaha LPPM-IPB, Drs. Suhaemi serta Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Dr.Ir. Dahrul Syah. Tampak hadir pula pejabat dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Karawang, Camat Kec. Telaga Sari beserta para Kepala Desa, dan sejumlah petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Wargi Mekar Kab. Karawang. 

Wakil Rektor IV IPB, Dr.Ir. Asep Saefuddin, M.Sc., dalam sambutannya mengatakan, dalam perdagangan beras kemasan berlabel, mutu beras yang dikemas merupakan harapan konsumen. Namun dalam kenyataan, beras dalam kemasan berlabel belum sepenuhnya menunjukkan mutu beras yang diinginkan konsumen. Selain itu, label varietas yang tertera dalam kemasan, khususnya untuk varietas-varietas khusus, pada umumnya tidak sesuai dengan kenyataan varietas yang ditampilkan. “Padahal konsumen tertarik membeli beras yang ditawarkan dikarenakan oleh nama varietas yang ditampilan pada label kemasan. Dengan demikian, ada kecenderungan bahwa beberapa pemilik beras berlabel telah melakukan kecurangan atau cheating dalam berbisnis beras berlabel,” kata Dr. Asep.

 Karenanya Dr. Asep menegaskan, program pemasaran beras berlabel yang digagas LPPM IPB bersama Ditjen PPHP, adalah implementasi dari tuntunan agama, yang mengajarkan umatnya untuk senantiasa berlaku jujur. “Kita coba menerapkan perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kehidupan agama itu ada dalam padi, ada dalam beras, ada dalam label,” tegasnya. Senada dengan Dr. Asep, Ketua Tim Beras Berlabel, Dr.Ir. Yadi Haryadi, M.Sc., menjelaskan, program ini sebagai salah satu upaya membangun sistem kejujuran pedagang beras sekaligus upaya mencerdaskan para konsumen. “Sekarang kan banyak beras berlabel Pandan Wangi, ternyata isinya bukan. Karenanya, pendampingan yang kami lakukan adalah dengan membina mulai dari menanam, panen, pasca panen hingga mendapatkan beras yang benar-benar asli.

Kalau Ciherang awalnya, ya ujungnya pun harus Ciherang,” ujarnya. Dr. Yadi yang juga Dosen pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB ini menuturkan, pada uji coba pemasaran beras berlabel di dua kabupaten, yakni Cianjur dan Karawang, label yang mungkin akan dicantumkan adalah sebagai berikut “Sudah diuji oleh laboratorium yang terakreditasi, dibawah binaan IPB bersama Deptan”. “Ke depan, sekitar tiga atau lima tahun, label tersebut tentu akan dilepas. Dengan harapan, pada saat itu, para pedagang dan juga konsumen sudah mengerti tentang pelabelan yang sebenarnya,” imbuhnya. Di tempat yang sama, Dirjen PPHP Deptan, Prof.Dr. Djoko Said Damardjati, mengemukakan, kerugian yang dialami negara ini akibat pemalsuan label beras pada tahun 1989 adalah sekitar Rp 240 miliar, atau sekitar 240 juta dollar Amerika. “Saat itu satu dollar Amerika masih sekitar Rp 1.000,00. Kalau kita hitung kerugian tersebut pada saat ini, maka berapa triliun rupiah kerugian yang kita alami.

Karenanya, kesempatan ini merupakan momentum untuk menjadikan kita sebagai pionir orang-orang jujur,” terangnya lebih lanjut. Di akhir acara, Tim Beras Berlabel memberikan penghargaan pada kelompok tani (Poktan) yang dinilai aktif selama masa pendampingan. Penghargaan berupa sebuah televisi 14 inc akhirnya diserahkan pada Poktan Bapak Komar, yang meraih nilai 89. Poktan Bapak Komar merupakan salah satu dari
lima Poktan yang terbentuk dari pembagian luas areal lahan sawah yang digarap dalam program tersebut, yakni sekitar 63 hektar. (nm) 

Penelitian Prospek Kopi Indonesia di Pasar Internasional

February 12, 2007 by prohumasi

Sejak tahun 1984 ekspor kopi Indonesia menduduki nomor tiga tertinggi setelah Brasilia dan Kolombia. Bahkan, untuk ekspor kopi robusta, Indonesia menduduki peringkat pertama dunia. Tahun 1997, posisi Indonesia bergeser menjadi peringkat empat, tergeser Vietnam. “Pergeseran ini terjadi karena persaingan ketat antar produsen kopi dan kelengahan Indonesia dalam mengamati posisinya di pasar kopi internasional,” ujar Mahasiswa S3 Program Studi Ekonomi Pertanian Institut Petanian Bogor (IPB), Reni Kustiari dalam ujian Sidang terbuka disertasi ‘Analisis Ekonomi tentang Posisi dan Prospek Kopi Indonesia di Pasar Internasional’ Selasa (30/1) di Kampus IPB Darmaga. Peningkatan posisi Vietnam didukung produktivitas kopi yang tinggi yakni 3.5 ton per hektar, sementara
Indonesia hanya sekitar 900 kilogram per hektar. Sebagian besar ekpor kopi
Indonesia adalah jenis kopi robusta (93 %). Jenis kopi arabika, yang harganya lebih mahal, hanya sebagian kecil. Menurut Reni, berdasarkan hasil penelitiannya struktur pasarkopi dunia mendekati struktur pasar persaingan sempurna.Terdapat keterkaitan antara harga di tingkat produsen, harga pasar domestik, harga di tingkat pengekpor dan di tingkat dunia. “Pasar Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan Singapura merupakan pasar yang prospektif untuk meningkatkan volume ekpor kopi robusta, sedangkan Italia meningkatkan ekspor kopi arabika,” kata Reni. Peluang untuk meningkatkan volume ekspor kopi sangrai
Indonesia ke
Jepang, Malaysia, Kanada, Perancis, dan Inggris masih terbuka.
Negara Jepang, Malaysia dan Rusia merupakan pasar yang potensial untuk meningkatkan volume ekspor kopi terlarut dari
Indonesia. Penelitian ini dibawah bimbingan Prof Isang Gonarsyah, Dr Hermianto Siregar, dan dr Pantjar Simatupang. (ris)

Rencana Fieldtrip dan Studi Tour FKH IPB 2007

February 12, 2007 by prohumasi

Sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) berencana melakukan kunjungan dan studi tour ke beberapa FKH dan industri peternakan yang ada di Indonesia, pada tanggal 5-12 Februari 2007 mendatang. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan wawasan, menambah keterampilan di bidang industri peternakan serta terjalinnya relasi yang baik antar setiap FKH se-Indonesia.

FKH Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta , FKH Airlangga Surabaya dan FKH Udayana Bali merupakan tujuan dalam rencana kunjungan ini. Sementara, studi lapang ke industri peternakan adalah peternakan ayam di Surabaya , industri peternakan sapi bali di Bali, serta BIB di Singosari Malang. Ketua Pelaksana, Bama Oktionus I, mengatakan, kegiatan ini bernama “Fieldtrip dan Studi Tour FKH IPB 2007”. “Sasaran yang ingin dicapai adalah memperoleh gambaran lengkap mengenai perkembangan dunia kemahasiswaan, kedokteran hewan, peternakan dan agroindustri.

Selain itu, memperoleh peluang dan dukungan untuk penyelenggaraan kerjasama peningkatan kualitas sumberdaya manusia dalam hal praktik lapang atau penelitian bagi mahasiswa,” terang Bama. (nm)  

UNP Studi Banding Ke IPB

February 12, 2007 by prohumasi

 Sebanyak 41 mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) melakukan studi banding ke Institut Pertanian Bogor (IPB) Jum’at (25/1) di Ruang Sidang Rektorat Kampus IPB Darmaga. Mahasiswa tersebut didampingi dua pembibing bagian kemahasiswaan yakni Drs.Willadi Rosyid, M.Pd (Staf Ahli Pembantu Rektor III) dan Syafril S.Sos (Kepala Sub Bagian Kemahasiswaan). “ Tujuan utama studi banding ini adalah untuk menggali informasi dari IPB mengenai prestasi penelitian ilmiah mahasiswa di bidang sains. Dan adalah salah satu dari empat perguruan tinggi favorit tujuan studi banding kami,” Staf Ahli Pembantu Rektor III UNP, Drs.Willadi Rosyid, M.Pd .

Menurut Willadi, mahasiswa IPB selama ini berhasil mengirimkan proposal PKM terbanyak ke DIKTI, tentu saja ini sesuatu yang sangat membanggakan. Sedangkan, UNP baru bisa mengirimkan sedikit proposal dan belum ada yang berhasil lolos. “Oleh karena itu UNP ingin sekali mengetahui bagaimana proses pembibingan, penelusuran bakat dan minat yang dilakukan Direktorat Kemahasiswaan IPB dalam memotivasi mahasiswanya agar berprestasi di penelitian sains,” tambahnya. Ia berharap suatu saat mahasiswa UNP juga bisa berhasil meraih prestasi penelitian sains di tingkat nasional.

 Dalam acara silaturahmi tersebut, mahasiswa UNP tampak sangat antusias sekali melontarkan berbagai pertanyaan kepada Direktur Kemahasiswaan IPB, Dr Rimbawan hingga tanpa terasa waktu yang disediakan untuk berdiskusi habis. Untuk menampung anspirasi mereka, panitia akhirnya memperpanjang jatah waktu diskusi. Usai diskusi, mereka akan berkunjung ke departemen-departemen dan Perpustakaan Pusat IPB. Rombongan ini diterima langsung Wakil Rektor III IPB, Prof. Yusuf Sudohadi, Direktur Kemahasiswaan IPB, Dr Rimbawan dan Kepala Bidang Pengembangan Minat dan Bakat mahasiswaan, Dr Bambanng Riyanto. (ris)  

Rektor Resmikan Pokja PKPS

February 12, 2007 by prohumasi

Rektor Institut Pertanian
Bogor (IPB), Prof.Dr.Ir. A.Ansori Mattjik, M.Sc., meresmikan berdirinya Kelompok Kerja (Pokja) Pusat Kajian Pembangunan Syariah (PKPS) Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) IPB, Kamis (25/1). Bertempat di Ruang Mahoni Kampus IPB Gunung Gede, peresmian PKPS LPPM IPB itu dirangkai dengan acara Seminar Nasional “Prinsip Syariah dalam Percepatan Pembangunan Daerah Berbasis Unggulan Lokal”.Dalam sambutannya Rektor mengatakan, keberadaan PKPS LPPM IPB diharapkan menambah sumbangsih IPB dalam mengisi pembangunan untuk bangsa dan negara
Indonesia . “IPB memiliki potensi pengajar di bidang pertanian dalam arti luas. Karenanya, mudah-mudahan ke depan dalam pembangunan ini kita harapkan sumbangsih IPB kepada bangsa yang dicintai,” kata Rektor.Koordinator Pokja PKPS, Prof.Dr. Bunasor Sanim, M.Sc., menyebutkan, rencana untuk mendirikan lembaga ini telah dimulai sejak tanggal 2 Juli 2004, melalui sebuah pertemuan yang juga dihadiri Bapak Anton Apriantono, Menteri Pertanian RI sekarang.

Disebutkan, visi PKPS adalah menjadi pusat penerapan dan pengembangan konsep pembangunan syariah bagi pendidikan masyarakat, baik dalam bidang sosial, ekonomi, teknologi maupun politik terkemuka di
Indonesia dan
Asia . Sementara, salah satu misinya adalah melakukan penelitian-penelitian dan pengembangan penerapan konsep pembangunan syariah dalam masyarakat.Tampak hadir dalam kesempatan tersebut antara lain, Wakil Rektor IV IPB Dr.Ir. Asep Saefuddin M.Sc., Kepala LPPM IPB Prof. Dr. Rizal Syarief Sjaiful Nazli, DESS., Direktur Program Manajemen Bisnis (MB) IPB, Dr.Ir. Arief Daryanto, M.Ec., dan Kepala Kantor Prohumasi IPB, drh. Agus Lelana, SpMP, M.Si.

Keynote speech menghadirkan Bapak Tata Wiranto selaku Deputi Kementerian Menteri Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal RI , dan Bapak Mulia Siregar, Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan Perbankan Syariah Bank
Indonesia mewakili Deputi Gubernur BI.Sementara, seminar yang bertajuk “Prinsip Syariah dalam Percepatan Pembangunan Daerah Berbasis Unggulan Lokal”, menghadirkan pembicara Direktur Asuransi Mubarokah yang juga Ketua Jurusan Program Magister Keuangan dan Perbankan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Djafril Chalil, MCL. Pembicara lainnya adalah Dr.Ir. Hedi M. Idris, M.c., dari Direktorat Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah, Bappenas. (nm)  

Agrinex: Menuju Agribisnis Indonesia Go Internasional

February 12, 2007 by prohumasi

IPB bekerjasama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dengan didukung penuh event organizer Performax akan menggelar “AGRINEX Indonesia 2007, Conference & Expo 2007, One Stop Shopping for Agribusiness” yang bisa jadi akan menjadi expo pertanian terlengkap yang pernah dilaksanakan di Indonesia. Persiapan pun sudah dilakukan sejak Desember 2005 lalu. Dan dalam rangka memantapkan berbagai persiapan “hajatan” besar yang akan digelar 16-18 Maret 2007 mendatang di Jakarta Convention Center (JCC) itu, pada Rabu (26/1) diadakan Coffee Morning di Ruang Rapat Pemasaran, Departemen Pertanian RI Jakarta. Coffee Morning dihadiri perwakilan dari IPB, HIPMI, Deptan dan juga Performax. Ide kegiatan ini merupakan sumbangan Departemen Pertanian RI . Expo ini ditujukan untuk mempromosikan dan mengembangkan agribisnis Indonesia secara lebih luas dengan menempatkan IPB dan HIPMI sebagai mitra pemerintah dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, revitalisasi pertanian dan Biofuel. Rencananya, kegiatan ini dirancang agar semua yang menyangkut agribisnis dipamerkan di satu tempat. Hal ini dimaksudkan agar peserta dan pengunjung dapat saling berinteraksi untuk mengembangkan kemungkinan bisnis jangka panjang yang saling menguntungkan.


Para peserta berasal dari lingkup penelitian dan pengembangan, industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan, pengelola HPH. Selain itu, perusahaan yang bergerak di bidang mesin dan peralatan pertanian, transportasi, distributor, eksportir, perusahaan kemasan, hypermarket, manajemen, konsultan, dan berbagai industri berbasis pertanian baik industri hulu maupun hilir. Lingkup pemasaran dan pendanaan (dalam hal ini bank dan institusi pendanaan dalam dan luar negeri) juga pihak pemerintah daerah akan ikut serta meramaikan Agrinex Indonesia 2007. Akan digelar pula diskusi agribisnis dengan tema-tema strategis seperti, Tantangan ekonomi Indonesia, pengembangan biofuel di Indonesia, pengembangan pertanian berbasis industri, strategi dan kebijakan peningkatan produktivitas dan daya saing produk kehutanan, agribisnis Indonesia: kebijakan dan strategi peningkatan produktivitas dan daya saing, peluang agribisnis Indonesia di pasar global, kebijakan pengembangan perusahaan agribisnis di Indonesia, perikanan Indonesia strategi dan kebijakan peningkatan produktivitas dan daya saing, dengan menghadirkan pakar-pakar dari IPB, BI, BKPM, KADIN, BPEN, BPP HIPMI. Rencananya, kegiatan akan dibuka oleh Menteri Pertanian RI, Dr. Anton Apriyantono, MS dengan keynote speech dari Presiden RI, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam rangka mensosialisasikan kegiatan ini, panitia Agrinex Indonesia 2007 sudah sempat berkunjung ke kediaman Wakil Presiden RI , Drs. Jusuf Kalla. Mereka adalah Ir. Rifda Ammaria (Presdir Performax), Prof. Dr. M. A. Chozin, M Agr.(Wakil Rektor I IPB) didampingi drh. R.P. Agus Lelana, SpMP, MSi (Kepala Kantor Prohumasi IPB) serta Joko Said, dari Departemen Pertanian RI .“Semoga Agrinex ini betul-betul menjadi momen bagi agribisnis untuk go internasional pada tahun 2008, karena semua asosiasi sudah menyatakan akan mendukung kegiatan ini” jelas Ir. Rifda Ammaria, yang juga Alumni IPB dihadapan para tamu undangan. Menurutnya ini merupakan suatu kepentingan bersama semua asosiasi untuk menunjukkan kepada seluruh rakyat Indonesia dan stakeholder bahwa kita sudah siap untuk bersama-sama mempercepat pembangunan agribisnis di Indonesia . (zul/nUr)  

OMDA Dan Relawan Siap Promosikan IPB

February 12, 2007 by prohumasi

Sedikitnya 1.500 mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) Institut Pertanian Bogor (IPB) dan para mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Mahasiswa Daerah (Omda) memenuhi Graha Widya Wisuda (GWW) di Kampus IPB Darmaga, Kamis (18/1). Mereka tampak bersemangat mengikuti acara Pembekalan Omda, meski acara dilangsungkan pada malam hari. Pekikan lantang sang Ketua BEM TPB saat meneriakkan yel-yel mahasiswa menambah semarak suasana. Tak ayal, hal ini membuat Wakil Rektor I IPB, Prof.Dr.Ir. M. Achmad Chozin, M.Agr., berulang kali menyampaikan rasa bangganya. “Saya sangat bangga dengan semangat adik-adik yang berniat mempromosikan IPB di daerahnya masing-masing. Karenanya saya ucapkan terima kasih dan apresiasi pada adik-adik selaku duta-duta IPB,” kata Prof. Achmad Chozin di hadapan ribuan mahasiswa yang hadir.

Dalam sambutannya yang mengawali rangkaian acara, Prof. Achmad Chozin juga menyampaikan apresiasi kepada Kantor Prohumasi IPB yang telah berhasil menggelar acara pertemuan bagi Omda-omda di lingkungan IPB. Usai sambutan WR I IPB, giliran BEM TPB “unjuk kebolehan”. Sang Ketua BEM, Bayu Cahyo Nugroho bersama sejumlah kabinetnya berjalan tegap dari tribun atas menuju panggung acara. Di atas panggung itulah, mereka melaunching program kerja BEM TPB seraya mengumumkan nama kabinet yang mereka bentuk dengan sebutan Kabinet Hexagonal. Kabinet ini memiliki prinsip kerja Normatif, Edukatif, Komunikatif, Transformatif, Apresiatif dan Reformatif atau disingkat NEKTAR.

Pembekalan Suasana berubah hening, saat Direktur Pendidikan TPB, Dr. Ibnul Qayim, tampil menjelaskan tentang Kurikulum Sistem Mayor-Minor. Menurutnya, sistem Mayor-Minor yang diterapkan IPB harus dapat disosialisasikan kepada masyarakat luas. Karenanya, para duta IPB yang tak lain adalah para mahasiswa yang tergabung dalam Omda dan para sukarelawan, diharapkan dapat menyosialisasikannya. Sementara itu, Kepala Kantor Prohumasi IPB drh. Agus Lelana, SpMP, M.Si., memberikan pembekalan berupa kiat-kiat promosi di daerah. ”Sebagai perguruan tinggi pertama dan terkemuka di
Indonesia, IPB adalah pionir otonomi perguruan tinggi,” ujarnya, seraya menyemangati mahasiswa dengan yel-yel ”Hidup Mahasiswa, Hidup IPB!”.

  Berturut-turut hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut adalah Direktur Pendidikan Program Diploma, Prof. Dr. Ir. Zairin Junior, M.Sc., Sekretaris S2 Sekolah Pascasarjana, Dr.Ir. Naresworo Nugroho, Ketua Panitia Beasiswa Utusan Daerah (BUD), Dr.Ir. Hardinsyah, MS., dan Koordinator Wilayah Beastudi Etos Republika, Asep Nurhalim, Lc. (nm)

Lampu Sorot dan Perburuan Ancam Kelangsungan Kumbang Lucanid

February 12, 2007 by prohumasi

Lampu sorot yang dipasang di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak dan perburuan mengancam kelangsungan hidup kumbang lucanid (Lucanidae). Pada malam hari, lampu penerangan tadi menarik perhatian kumbang-kumbang lucanid. Kumbang bertanduk ini terbang mengitari lampu. Oleh masyarakat, kondisi tersebut dimanfaatkan untuk memburu kumbang yang terperangkap.

Sebanyak 9.180 ekor dari 12 spesies kumbang lucanid terkumpul dan dijual pedagang selama setahun. Spesies yang paling banyak terkumpul, salah satunya yang bernilai jual tinggi yaitu Allotopus rosenbergi (25.5 %). Dua spesies lain yang bernilai harga jual tinggi adalah Dorcus buchepalus dan Prosopocoilus decipen. Dua spesies ini jarang tertangkap. Perburuan dan penangkapan serangga yang berlebihan untuk diperdagangkan merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan terjadinya penurunan populasi drastis serangga tersebut. Beberapa spesies bernilai ekonomis tinggi dari ribuan hingga jutaan rupiah. “ Kegiatan perburuan dan gangguan ekosistem kumbang lucanid oleh masyarakat dalam jangka panjang akan bisa mengakibatkan kepunahan kumbang ini,” kata Roni.

Kumbang ini sering menjadi bahan komoditi hiasan dan benda kolektif bermutu tinggi. Selain perburuan, ancaman berasal dari penebangan liar, pengambilan kayu, dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian. “Masyarakat tak hanya mengambil kumbangnya, bahkan larvanya pun diambil,” ungkap Roni Koneri, Mahasiswa S3 Program Studi Biologi Institut Pertanian Bogor (IPB) di tengah sidang terbukanya Kamis (18/1) di Kampus IPB Darmaga. Disertasi dibawah bimbingan Dr. Dedy Duryadi Solihin, Dr. Damayanti Buchori, dan Prof. Rudy C. Tarumingkeng ini bertajuk ‘ Bioteknologi dan Konservasi Kumbang Lucanid (Coleoptera: Lucanidae) di hutan Gunung Salak, Jawa Barat’.

Ia sangat berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem Gunung Salak. Ia bersifat saproxylic yaitu sebagai pengurai bahan organik (kayu mati) di hutan. Peran ekologis kumbang ini sebagain besar terjadi pada fase larva.

 Pada fase tersebut, kumbang lunacid hidup di dalam kayu-kayu lapuk dan tunggul-tunggul kayu. Larva menghancurkan material batang kayu lapuk menggunakan rahangnya untuk mencapatkan makanan. Tidak hanya kumbang dewasa, masyarakat juga memburu larvanya dengan cara membongkar dan menghancurkan kayu-kayu lapuk di hutan tempat bersarangnya. (ris)  

Kunjungan UIN Malang ke IPB

February 12, 2007 by prohumasi

Sekitar 30 orang pimpinan dan staf Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Jawa Timur, melakukan kunjungan kerja ke Institut Pertanian Bogor (IPB), Selasa (23/1). Mereka diterima oleh Wakil Rektor II IPB Dr.Ir. Herry Suhardiyanto MSc , Direktur Sumberdaya Manusia dan Administrasi Umum Dr.Ir. Moh. Yamin, M..Agr. M.Sc., Direktur Keuangan Dr. Ir. Aris Munandar, MS., dan Kasubdit Perencanaan dan Pengendalian Direktorat Keuangan Drs. Cahyono Tri Wibowo, MM., di Ruang Sidang Rektor Kampus IPB Darmaga.


Pembantu Rektor II UIN Malang , Prof.Dr. Muhaimin , MA. , selaku pimpinan rombongan, dalam kata pengantarnya mengatakan, kunjungan ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pengalaman pada mereka dalam hal mengelola administrasi keuangan. Dikatakan, IPB merupakan perguruan tinggi (PT) pertama yang dikunjungi rombongan UIN Malang, sebelum kunjungan ke PT lainnya yakni UIN Jakarta, Universitas Parahiyangan Bandung dan Univrsitas Padjajaran Bandung.


Dalam rombongan, ikut serta antara lain Pembantu Rektor III, para Pembantu Dekan II dari seluruh fakultas, Kepala Administrasi Umum, staf keuangan dan Kepala Badan Perencanaan di lingkungan UIN Malang.


Sementara itu, Wakil Rektor II IPB, Dr. Herry, di hadapan rombongan UIN Malang mempresentasikan tentang perubahan IPB menjadi PT Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Dikatakan, BHMN bukanlah swastanisasi, melainkan pemberian kewenangan secara meluas untuk mengelola sumberdaya yang ada di institusi secara otonom sehingga institusi yang bersangkutan memiliki keleluasaan dalam berkreasi.


Terkait pengelolaan keuangan, Dr. Herry mengatakan pentingnya sentralisasi sistem keuangan di sebuah perguruan tinggi. Hal ini perlu dilakukan, karena keuangan adalah hal yang krusial, jelas Dr. Herry. Dalam kesempatan tersebut, konsep subsidi silang pembayaran SPP di IPB menjadi salah satu bahasan menarik dalam kunjungan UIN Malang kali ini. Beberapa lontaran pun terdengar dari rombongan UIN Malang, yang menurut mereka patut dicontoh.


Di tempat yang sama, Direktur SDM dan AU IPB, Dr. Yamin menjelaskan tentang SDM yang dimiliki IPB. Dr. Yamin antara lain menyebutkan, adanya peningkatan jumlah karya ilmiah oleh Dosen IPB pada tahun 2006. Dikatakan, dalam satu tahun, yakni tahun 2006, jumlah karya ilmiah adalah 2.828 judul dari 615 Dosen. Jumlah tersebut meningkat sekitar 250 persen dibanding tahun 2002. (nm)
 

Pembangkit Listrik Tenaga Biogas dari IPB

January 23, 2007 by prohumasi

Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPTP- Fapet- IPB) telah mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga biogas. Biogas adalah gas hasil fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme anaerobic. Teknologi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai pengembangan bioenergi alternatif dari berbagai bahan organik.

“Selama ini biogas dikenal hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar keperluan rumah tangga khususnya untuk memasak saja, padahal biogas bisa juga dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit generator listrik,” ungkap Peneliti Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas IPB, Suhut Simamora sambil mempraktekkan kinerja generator listrik temuan IPB, Senin (22/1) di Rumah Pemotongan Hewan Kampus IPB Darmaga. Bersama rekannya yang juga staf IPTP-Fapet-IPB, Salundik dan Sri Wahyuni, Simamora mengembangkan teknologi pengolahan biogas IPB.

Kelebihan bahan bakar biogas untuk memasak ialah menghasilkan nyala biru dan panas yang sama dengan LPG, tidak beracun, tidak berbau, serta tidak menimbulkan jelanga.

Proses produksi biogas terbilang sederhana. Bahan utamanya ialah campuran feses, urine (air kencing), dan sisa pakan (bahan organik) dengan pengenceran air. Perbandingan air dan kotoran adalah 2 :1. Nilai kalor biogas ditentukan oleh gas methan (CH4) dan karbon dikosida (CO2). Bahan utama kemudian ditampung dalam digester (pencerna bahan organik) disesuaikan dengan kapasitas dan jumlah ternak. Pengisian pertama harus sudah tercipta kondisi anaerob. Waktu tunggu pengolahan biogas 13-20 hari dari isian pertama. Digester dengan kapasitas 3 meter persegi bisa menampung kotoran 2 – 4 ekor ternak sapi dewasa dan menghasilkan gas bio sebanyak 1800 liter. Biogas sebanyak ini cukup untuk kebutuhan memasak keluarga (5 orang anggota keluarga tiap harinya).

“Biogas ini mampu mensubtitusi kebutuhan minyak tanah suatu pembangkit listrik. Setiap satu liter biogas mampu menghasilkan energi listrik setara dengan kemampuan 1.4 liter minyak tanah,” kata Simamora. Generator pembangkit listrik IPB mampu menghasilkan listrik maximum output power 500 watt dan 700 watt serta menerangi selama 4-6 jam. Hal ini disebabkan keterbatasan mesin generator listrik yang memerlukan pendinginan setelah 4-6 jam pemakaian.

Total biaya instalasi biogas lengkap dengan digester semen dengan kapasitas 5-7 meter kubik sebesar antara Rp 12.5 juta hingga RP 15 juta. Digester dengan kapasitas ini mampu mengolah kotoran sapi sebanyak 5-15 ekor sapi. Sedangkan biaya instalasi digester fiber glass lengkap dengan kapasitas 4 meter kubik lengkap sebanyak Rp 7 juta. Digester fiber glass mampu mengolah kotoran 2 ekor sapi dewasa. Biaya tersebut mencakup penyediaan kompor gas, digester, saluran distribusi, biaya penggalian, pembuatan bak masukan dan keluaran kotoran, generator dan lain-lain.

Selain biogas, dari proses pengolahan kotoran ini diperoleh limbah padat dan cair yang keduanya dikembangkan IPB sebagai pupuk. “Setiap satu kali proses produksi biogas, IPB memperoleh 200 liter limbah cair dan padat. Limbah ini dicampur darah -limbah pemotongan hewan- sebagai sumber Nitrogen (N), tepung tulang sebagai sumber Phospor (P) dan bakaran sekam sebagai sumber Kalium (K). Dari campuran tersebut terbentuklah pupuk NPK,” jelas Simamora. (Aris Solikhah)