Archive for the ‘Uncategorized’ Category

IPB-UNIPA Bentuk Pasar Perikanan di Papua

February 12, 2007

IPB-UNIPA Bentuk Pasar Perikanan di Papua Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Negeri Papua (UNIPA) membantu pembentukan pasar perikanan di Papua melalui Program Pengembangan Perikanan dan Pertanian Terpadu (P4T). Program ini merupakan kerjasama IPB dan UNIPA dengan Tangguh LNG, Pemerintah Daerah Papua serta British Petroleum (BP). “Sekarang sudah menginjak tahun kedua pelaksanaan P4T. Tahun 2006 kemarin, kita melakukan survei potensi sumberdaya pertanian dan perikanan Papua yang bisa dikembangkan,” kata salah satu Tim P4T Dr Sulistiono Kamis (8/2) di Kampus IPB Darmaga.

Dari hasil survei sementara, IPB-UNIPA akan membentuk pasar yang menampung produk kepiting bakau di daerah Bintuni, membantu kontinuitas pasar kepiting bakau di Babu dan pengadaan pasar produksi udang di Aranday. “IPB berniasiasi mencoba menambah jalur-jalur pemasaran dengan bekerjasama dengan berbagai CV dan membuat outlet di beberapa tempat,” jelas Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pembentukan pasar ini sebagai upaya peningkatan kesejahteraan dan nilai tambah bagi masyarakat setempat. Selama ini, masih banyak masyarakat yang memanfaatkan hasil perikanan dan pertanian untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan belum mau menjualnya.Tim P4T yang diketuai Dr Hardinsyah ini beranggotakan Dr Titik Sumarti, Dr Sulistiono, Dr Djuara P Lubis, Dr Achmad Fachrudin, Dr Saiful Anwar, Dr.Winarso Drajat Widodo , Dr Asnath M Fuah dan dibantu tim relawan yang berasal dari IPB dan UNIPA.

Salah satu relawan asal Papua, Moses Wakum mengisahkan suka dukanya melaksanakan tugas sebagai relawan.Menurut Moses tak jarang masing-masing Kecamatan (distrik) memiliki adat dan bahasa yang berlainan. Perlu waktu beradaptasi dengan masyarakat sekitar untuk memahami seluk beluk adat, bahasa, kebiasan, pantangan, larangan dan diterima masyarakat.“Cara efektif mendekati masyarakat adalah berkunjung ke setiap rumah penduduk satu per satu. Bergaul, berdiskusi dan mengenal mereka dari dekat akan membuat mereka menerima kita dengan baik,” ujar Moses.

Metode mengumpulkan penduduk di tempat tertentu kemudian diberikan pengarahan merupakan cara yang kurang efektif. Dari pengalamannya di Distrik Aranday, Moses menuturkan, sebanyak 88 kepala keluarga yang diundang, hanya 10 orang yang hadir memenuhi undangan. Agar semua warga mau hadir, lalu Moses berinisiatif medatangi satu per satu rumah untuk diajak berkumpul. Di satu rumah, Moses didamprat habis-habisan sang istri. “Ibu itu bilang, Jangan ajak suami saya kumpul, ia belum makan,” kenang Moses. Menghadapi hal tersebut, saran Moses, kita harus cuek jangan dimasukkan ke hati, karena tipe masyarakat di sana berkarakter agak keras.Pendekatan lain yang tepat adalah dengan menunjukkan bukti. Masyarakat Aranday belum percaya alat penangkap kepiting yang dibawa IPB lebih baik dari alat tradisional mereka. Oleh karena itu tim relawan melakukan lomba menangkap kepiting. Hasilnya, dengan alat baru yang ditawarkan dari Tim IPB bisa menangkap kepiting jauh lebih banyak. Masyarakat pun tertarik untuk mengganti alat tangkap mereka. (ris)

Naik Sinukaban: Perlu Pembuatan Cek Dam di Hulu

February 12, 2007

Perlunya pembuatan cek dam di daerah hulu. Demikian dikatakan Pakar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Konservasi Tanah dan Air Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Naik Sinukaban, terkait banjir Jakarta 2007.


Menurutnya, cek dam merupakan salah satu teknik konservasi tanah dan air yang sederhana, namun berguna untuk menampung air hujan yang turun. Dengan demikian dapat menurunkan koefisien aliran permukaan sungai yang selama ini menjadi penyebab banjir di daerah Jakarta dan sekitarnya.

“Di setiap sungai di daerah hulu hendaknya dibangun Cek Dam. Cukup dengan ukuran kecil, misalnya dengan daya tampung sekitar 100 atau 200 meter kubik. Selain dapat mencegah banjir, Cek Dam juga dapat memberikan manfaat untuk irigasi dan sebagainya,” kata Prof. Naik saat melakukan diskusi dengan wartawan di Bale Wartawan kampus IPB Darmaga, Jumat (9/2).


Tingginya aliran permukaan, disebutkan Prof. Naik, juga mengakibatkan hilangnya jumlah air sebanyak 1,5 miliar liter kubik di setiap musim hujan. Padahal, dengan jumlah tersebut, dapat memenuhi kebutuhan air bagi 11 juta warga Jakarta dan dapat mengairi sekitar 20 ribu hektar area persawahan.
Lebih lanjut Prof. Naik menjelaskan, masalah banjir
Jakarta hanya bisa diselesaikan jika Pemerintah Pusat melakukan intervensi, yakni dengan membuat badan khusus untuk menanganinya. Sebab DAS Jabodetabek melibatkan lebih dari satu pemerintah provinsi dan menyangkut departemen terkait, seperti Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan.

Menyinggung proyek Banjir Kanal Timur yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, Prof Naik mengatakan, hal tersebut perlu dilakukan, namun tidak cukup efektif. Karenanya ia mengusulkan, sebagian pendanaan proyek tersebut, hendaknya bisa diperuntukkan bagi pembuatan Cek Dam di daerah hulu. (nm)

IPB Peduli Banjir

February 12, 2007

stitut Pertanian Bogor (IPB) turut prihatin terhadap bencana alam banjir yang menimpa saudara-saudara  kita di beberapa wilayah terutama di DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebenarnya, bencana seperti ini tidak perlu terjadi apabila kita dapat mengantisipasi sebelumnya. “Bencana dapat diminimalisasikan secara terintegrasi bersama dan berkeseimbangan, hal ini dapat dijadikan sebagai bentuk kepedulian kita bersama,” kata Kepala Kantor Prohumasi IPB, drh. R.P. Agus Lelana, SpMP, M.Si. Menurut Staf Pengajar Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, IPB Dr. Supriyanto yang juga Ketua Gerakan Penghijauan Peduli Banjir Jakarta dan Sekitarnya (GPPBJS), menegaskan permasalahan yang dialami Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek) karena  beberapa faktor antara lain, wilayah tersebut menjadi  Kota Megapolitan, kepadatan penduduk akibat urbanisasi, polusi baik industri dan kendaraan serta banjir tahunan dari sungai Ciliwung dan Cisadane. Banjir merupakan salah satu masalah yang sering dialami DKI Jakarta. ”Penyebab banjir Jakarta diantaranya karena curah hujan yang tinggi, adanya lahan kritis dan vegetasi kurang, resapan air menurun, waduk, situ dan saluran irigasi tidak berfungsi dengan baik,” ungkap Supriyanto. Dijelaskan, data sebaran curah hujan di Jabodetabek. Curah hujan tertinggi sekitar 3.000-3.500 milimeter per tahun terjadi di
kota dan kab. Bogor, dan terendah terjadi di DKI Jakarta dengan angka 1.700 milimeter per tahun.  Untuk kota Tangerang, Bekasi dan Depok sekitar 2000-3000 milimeter per tahun.  Ditambah lagi kegiatan pembangunan di DAS Ciliwung yang cenderung mengarah pada penurunan daya dukung lingkungan berupa penurunan kemampuan lahan dalam meresapkan air dan peningkatan laju erosi.  Kondisi ini menyebabkan tingginya limpasan air permukaan yang berakibat timbulnya banjir tahunan di DKI Jakarta. ”Oleh karenanya perlu transfer cost (kompensasi) dari daerah hilir ke hulu. Kompensasi ini, terangnya, sangat diperlukan dalam penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane,” ujarnya. 
Luas lahan kritis sampai dengan tahun 2004 di DAS Ciliwung telah mencapai sekitar 5.400 hektar, yang tersebar di Kabupaten Bogor sekitar 4.600 hektar, Kota Bogor sekitar 70 hektar dan Kota Depok sekitar 730 hektar. ”Lahan kritis tersebut perlu dibangun kembali dengan menaman jenis-jenis yang produktif dan disukai oleh masyarakat. Dengan demikian, penanganan DAS Ciliwung harus terpadu yang melibatkan dua propinsi, Jawa Barat dan DKI Jakarta,” imbuhnya. Sementara saat ini enam dari 20 situ yang dimiliki DKI Jakarta telah rusak parah. Yaitu, Situ Rawa Dongkal, Aneka Elok, Rawa Badung, Ria Rio, Kebon Melati, dan Pluit. Selain tercemar sampah dan limbah, pendangkalan terjadi oleh tumbuhan air. Solusi penanggulangan banjir, menurutnya, bukan hanya didasarkan pada civil engineering tetapi harus didasarkan pula pada Agricultural, Fisheries dan forestry engineering. ”Salah satunya dengan peningkatan resapan air melalui rehabilitasi hutan dan lahan (penghijauan),” tandasnya.  GPPJS dan IPB telah melakukan berbagai kegiatan seperti berbagai pelatihan, pembibitan dan penghijauan sebanyak 284.700 batang ditanam pada lahan 177,75 hektar, pengembangan sumberdaya manusia untuk Green School total peserta 603 orang, pembentukan kelompok tani. Kepedulian sivitas akademika juga ditunjukkan  Badan Ekskutif Mahasiswa  Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB,  ketika musibah melanda DKI Jakarta, mahasiswa mengumpulkan  dana sukarela dari masyarakat sekitar kampus. 

Teknologi Alternatif lain  Dari sisi teknologi terapan, seorang Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB),  Kamir R. Brata telah menerapkan.Lubang Serapan Biopore atau disingkat LRB. Teknologi  ini merupakan salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengatasi musibah banjir negeri ini. 

“Banyaknya lahan atau bangunan yang kedap air, menyebabkan air hujan yang turun tidak terserap tanah dan akhirnya membuat aliran permukaan hingga hilir. Inilah yang akhirnya menimbulkan banjir. Karenanya, diperlukan teknologi sederhana, tepat guna, mudah murah dan bisa dilakukan siapa pun,” kata Kamir pada wartawan Kamis (8/2) di kediamannya di desa Cibanteng Kecamatan Darmaga Bogor. Teknologi LRB diawali dengan pembuatan lubang sedalam 80 centimeter dan diameter 10 centimeter. Langkah selanjutnya adalah memasukkan sampah lapuk dua hingga tiga kilogram (tergantung jenis sampah) ke dalam lubang tersebut. “Sampah-sampah ini kemudian diurai oleh organisme pengurai sehingga terbentuk pori-pori,” jelas staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB ini. Dengan cara ini, air hujan yang turun tidak membentuk aliran permukaan. Melainkan meresap ke dalam tanah melalui pori-pori. “Jangan khawatir tanah akan menjadi lunak, karena air yang terserap akan tersimpan menjadi cadangan air di bawah tanah,” tambahnya.  Kamir menyarankan agar kedalaman lubang yang dibuat kurang dari satu meter. Apabila lebih dari itu cacing-cacing dan organisme pengurai lainnya kekurangan oksigen sehingga tidak dapat bekerja dengan baik.  Selain mempraktekkan proses pembuatan lubang, sempat ditunjukkan juga penerapan LBR di lahan percobaan Cikabayan, Kampus IPB Darmaga. Di lokasi tersebut saluran pembuangan dari lahan yang tertutup semen dilubangi dengan jarak antar lubang yaitu  satu meter. Ia mengatakan, LRB ini sangat tepat diterapkan pada pemukiman warga yang umumnya kedap air karena permukaaan tanah tertutup semen.  (nm/zul/ris)

62 Kepala SMK Se-Papua Kunjungi IPB

February 12, 2007

Dalam rangka meningkatkan kualitas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebanyak 62 Kepala SMK se-Papua mengunjungi IPB Rabu (7/2). Rombongan disambut Kepala Kantor Prohumasi IPB, drh. R.P. Agus Lelana SpMP, Msi di Auditorium Rektorat Kampus IPB Darmaga
Bogor.
 Kunjungan mereka ini terkait dengan kelanjutan program mereka untuk melakukan studi banding ke SMK-SMK di seluruh
Indonesia.
 

”Tahun lalu kami sudah mengunjungi SMK-SMK yang ada di Jawa Timur, dan untuk tahun sekarang kami berkunjung wilayah Jawa Barat. Ini semua kami lakukan untuk membangun Papua agar lebih maju dan kualitas SMKnya lebih baik lagi.” jelas Kepala Sekolah SMKN 7 JPR, Hadiyana yang juga wakil rombongan di depan audiens.  Namun sebelumnya, dengan didampingi Tim Protokoler IPB, rombongan berkesempatan untuk singgah ke Istana Bogor. “Sebelum sampai ke Kampus IPB Darmaga, mereka kita antarkan dulu ke Istana Bogor.
Ada beberapa peserta rombongan yang seumur hidupnya bahkan belum pernah memasuki Istana Bogor” jelas Jumiko Fitri, salah satu Tim Protokoler IPB  yang ikut mengantarkan rombongan.
 

Rombongan tiba di Kampus IPB Darmaga sekitar pukul 11.00 WIB. Dengan hangat, rombongan disambut Kepala Kantor Prohumasi IPB yang waktu itu didampingi Kuwat Santoso, Kepala Bidang Protokoler, Kantor Prohumasi IPB.  Dalam sambutannya, drh. Agus Lelana menyatakan bahwa kedatangan para Kepala SMK se-Papua ini merupakan suatu kehormatan bagi IPB. ”Merupakan kehormatan besar bagi kami, Bapak-bapak dan Ibu-ibu Kepala Sekolah berkunjung ke kampus IPB tercinta ini” sambutnya.  

Selain itu, beliau mempresentasikan tentang perubahan IPB menjadi PT Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Dikatakannya, BHMN bukanlah swastanisasi, melainkan pemberian kewenangan secara meluas untuk mengelola sumberdaya yang ada di institusi secara otonom. Ikut juga memberikan pemaparan IPB secara singkat, Kepala University Farm IPB, Dr. Ir. Anas D. Susila, M.Si.  Setelah itu, kunjungan dilanjutkan dengan melihat langsung Kebun di Desa Lengkeng University Farm, serta ke tempat pembuatan biogas di Fakultas Peternakan. (zul) 

Perdagangan Produk Kayu Meningkat, Hutan Pun Dibabat

February 12, 2007

Ekspor produk kayu dari tahun ke tahun mengalami peningkatan pesat.  Perdagangan kayu gergajian dimulai tahun 1978 dengan volume ekspor sebesar 0.8 ribu meter kubik, meningkat pesat pada tahun 2002 menjadi 16.363 meter kubik.  Begitu pula ekspor kayu lapis dan pulp. Menurut informasi  International Tropical Timber Organization (ITTO)  tahun 2002 Indonesia  menjadi pemasok utama pasar kayu lapis tropis dunia. Ekspor kayu lapis Indonesia pada tahun tersebut mencapai 5.82 juta meter kubik atau 49 persen dari total ekspor dunia.  Ekspor pulp mulai berkembang tahun 1989 dan produksi terus  meningkat seiring  waktu sebesar 37.1 persen per tahun. Atas prestasi yang dicapai ini, satu sisi Indonesia patut bangga sekaligus prihatin. Sebab, dari mana diperoleh produk perdagangan berbasis kayu tersebut diperoleh?   

“Perkembangan perdagangan produk berbasis kayu Indoensia sangat terkait dengan kebijakan pemerintah  yang menetapkan liberalisasi ekspor kayu bulat -reduce export taxes on logs- sesuai poin 17 Letter of lntens tahun 1998 dari  International Monetary Fund (IMF). Kebijakan ini telah meningkatkan defisit pasokan kayu bagi industri perkayuan, sehingga membuka peluang praktek illegal logging (pembalakan) dan deforestasi,” urai Mahasiswa S3 Program Studi Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB),  Inna Sri Supina Adi, dengan panjang lebar di tengah sidang terbuka bertajuk’ Perdagangan Produk Berbasis Kayu terhadap Deforestasi di Indonesia’ beberapa waktu lalu di Kampus IPB Darmaga.  Selain itu,   kebijakan  pemerintah Indonesia yang “memaksa’ dibangunnya industri perkayuan (dengan inti industri kayu lapis) pada awal tahun 1980-an telah menyebabkan terjadinya ‘overcapacity’ industri perkayuan. Belakangan, pemerintah Indonesia memberikan prioritas dan insentif untuk pembangunan industri pulp dan kertas dengan kapasitas produksi yang sangat besar. Kebijakan ini tak lepas dari salah satu persyaratan yang ditetapkan debitor asing dalam pencairan utang baru.  Hasil penelitian Inna menunjukkan  di Sumatera, perdagangan pulp sangat pesat dengan kecenderungan terus meningkat. Di Kalimantan, Maluku dan Papuakencenderungan perdagangan kayu  lapis dan kayu gergajian meningkat. Di Sulawesi, kecenderungan perdagangan kayu lapis meningkat, sedangkan kayu gergajian cenderung menurun. Penelitian ini dibawah Tim Komisi Ppembimbing yang terdiri dari Prof.  Isang Gonarsyah, Dr  I.S.S. Adi, , Dr  Endang Suhendanng, dan Dr Hariadi Kartodiharjo. (ris) 

Dua Scientist Taiwan Sosialisasi SARCS di IPB

February 12, 2007

  Prof. C.T. Arthur Chen (National Sun Yat Sen University Taiwan) dan Dr. Jough, Tai Wang (Directur Center for Environmetal Studies from National Central University) hadir di Institut Pertanian Bogor untuk mempresentasikan program SARCS (The Southeast Asia Regional Committee for START (Global Change System for Analysis, Research and Training)). Keduanya diterima, Wakil Rektor IV IPB, Dr. Asep Saefuddin, M.Sc.,dan Dosen IPB, Prof. Hidayat Pawitan di Ruang Sidang LPPM, Gedung Rektorat, Kampus IPB Darmaga Bogor (6/2). Kunjungan ini cukup bermanfaat bagi peneliti IPB, terutama dalam hal pendanaan, sebagaimana dipaparkan Prof.Hidayat Pawitan.  Beliau menjelaskan bahwa program SARCS yang disosialisasikan berisi  tawaran pendanaan penelitian dengan total dana sebesar USD 32.000/18 bulan untuk setiap proposal.  ”Dari seluruh negara di Asia Tenggara, akan dipilih 6 proposal per tahun yang didanai oleh SARCS. Dari 6 proposal tersebut, pada tahun 2006 lalu, 3 proposal dari Indonesia” ujar Hidayat Pawitan, salah satu dosen IPB.  

Dosen Ilmu Tanah dari Fakultas Pertanian IPB ini merupakan salah satu peneliti IPB yang penelitianya didanai oleh SARCS. ”Proposal yang didanai biasanya bertemakan global water dan carbon cycles,” ujarnya.  Selain mendengar presentasi tentang program SARCS, kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh para peneliti IPB yang sudah mempunyai proposal untuk berdiskusi langsung dengan kedua pakar dari
Taiwan tersebut.  
Acara yang dihadiri Kepala Departemen, dosen dan peneliti IPB ini merupakan hasil kerjasama LPPM IPB dengan SARCS Taiwan. Hal ini lebih dimudahkan dengan sudah diadakannya MoU dengan Taiwan dibidang science.  Apalagi dengan terpilihnya Dr. Asep Saefuddin menjadi Ketua ICDF-Taiwan Alumni Society menggantikan Utama Kayo (KADIN), hubungan kerjasama antara IPB dengan Taiwan akan semakin lancar. Terutama dibidang penelitian dan pengembangan sumberdaya manusia, serta hubungan kebudayaan dan periwisata. (zul) 

Terlewat, Kebijakan Teknis Perdagangan Internasional

February 12, 2007

Setelah tahun 1994, negara maju dan berkembang termasuk Indonesia bersiap diri menyongsong pasar bebas. Pola kebijakan internasional perdagangan produk pertanian dalam tarif, kuota, subsidi dan kebijakan teknis, masing-masing negara berubah. “Kecenderungan  kebijakan negara maju menimalisasi tarif  ekspor impor, menghapuskan kuota dagang,  mempertahankan subsidi dan menetapkan ketat kebijakan teknis perdagangan,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian Departemen Pertanian, Syukur Iwantoro dalam acara National Seminar “Food Safety, Quality, and Nutrition for The Best Future” Senin (5/2) di Auditorium Thoyyib Hadiwijaya Kampus IPB Darmaga. Sementara kebijakan Indonesia masih berkutat pada perdebatan tarif  ekspor impor, penghapusan kuota dan subsidi serta kurang perhatian terhadap kebijakan teknis. Padahal kebijakan teknis ini sangat penting dalam melindungi komoditi pertanian domestik  dan membatasi banjirnya impor komoditi pertanian dari negara maju. Kebijakan tersebut misalnya terkait standarisasi dan jaminan keamanan pangan (food safety) produk-produk pertanian.  

Menurut Syukur, komoditi  Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam varietas, iklim dan sumber daya alam, namun lemah  dalam teknologi budidaya dan pasca panen, sistem penanganan, pengembangan mutu dan jaminan keamanan pangan serta sistem standarisasi pertanaian. “Hal itulah yang menyebabkan banyak produk pertanian Indonesia di tolak negara tujuan ekspor, karena kalah bersaing dan Indonesia kebanjiran produk luar negeri di pasar domestik,” jelas Syukur. 

Lanjutnya, tahun 2003  tercatat sebanyak 612 Standar Nasional Indonesia (SNI) produk pertanian (pangan) yang dikeluarkan pemerintah. Jumlah ini masih jauh  lebih kecil dibandingkan varietas dan produk olahan pertanian Indonesia. Produk pangan yang tidak aman bisa menyebabkan penyakit, penurunan produktivitas, membebani anggaran pemerintah, dan merusak citra negara dalam perdagangan internasional.  Parahnya, tambah  Deputi  Keamanan Pengawasan Pangan dan Bahan Berbahaya Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dedi Fardiaz pangan yang cukup aman di Indonesia sekitar 17, 5 persen saja. 

“Masyarakat dan Industri Rumah Tangga masih banyak yang tak menerapkan standar  good practices dan Hazard Critical Control Point  (HACCP) baik dalam pemilihan bahan baku pangan, selama proses pengolahan, pengemasan dan hingga produk sampai di tangan konsumen,” imbuh Dedi. Dalam acara tersebut juga menghadirkan  Ratih Puspitasari,  Regulatory Affair PT Nestle Indonesia. Nestle adalah salah satu contoh industri yang menerapkan safety food dengan baik. Seminar  yang dihadiri dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia ini diselenggara oleh  International Association of Agricultural Students (IAAS)  local commitee Institut Pertanian Bogor (IPB). (ris)

Pejabat PNG Kunjungi IPB

February 12, 2007

Tiga orang pejabat Departemen Pendidikan Papua New Guinea (PNG), Diari Gobina, Kingston Alu, dan Madako Suari, satu orang staf Universitas Goroka, Dr. Gairo Onagi, dan satu orang staf Perguruan Tinggi Port Moresby, Prisca Mauve berkunjung ke IPB dalam rangka penjajakan kerjasama bidang peningkatan sumberdaya manusia, Jum’at (2/2) di Kampus IPB Darmaga, Bogor.  

Dihadiri juga Atase Pendidikan RI di Port Moresby, Ajisusmo, Staf Dirjen Dikti, Depdiknas, Whyu dan LO ONG Jakarta, Yeti. Pejabat IPB dihadiri oleh, Wakil Rektor IV, Dr.Asep Saefuddin, M.Sc., Direktur Kerjasama, Dr. Hardinsyah, Kepala Kantor Prohumasi IPB, Dr. Drh Agus Lelana, Sp.Mp.MS., serta peneliti, Dekan, Kepala pusat Direktur dan pejabat teras IPB lainya.  

Dalam sambutannya, wakil Rektor IV, Dr.Asep mengatakan, IPB menyambut baik kedatangan pejabat Departemen Pendidikan PNG dan juga staf-staf perguruan tingginya.  

”Selamat datang para pejabat Departemen Pendidikan PNG di IPB. Kita mengharapkan adanya suatu ikatan silaturahmi yang baik diantara kita,” ujar WR IV dalam sambutannya.  

Selain menyambut, Wakil Rektor IV juga memaparkan IPB dari berbagai sisi, mulai dari bentuk fisik, fasilitas, jumlah dosen, mahasiswa, staf, kerjasama di dalam dan luar negeri, produk yang telah dipatenkan, prestasi mahasiswa, dan sebagainya.  

Semenatara itu, dari Departemen Pendidikan PNG, Madako Suari memaparkan tujuannya datang ke IPB. ”Perguruan tinggi berbasis riset sangat berarti bagi kami, maka dari itu kami ingin belajar dari IPB.  Selain itu, kami mengharapkan IPB bisa datang ke PNG agar dapat melihat dan mempelajari apa yang kita kerjakan di sana,” ujarnya.  

Bukan itu saja, Madako juga menginginkan adanya suatu kerjasama antara IPB dengan pemerintah maupun perguruan tinggi yang ada di sana, baik itu dalam bidang riset, maupun pertukaran mahasiswa, dosen dan pegawainya.  

”Pemerintah PNG memfokuskan pengembangan dalam bidang makanan maka dari itu, bisa dilakukan kerjasama penelitian dalam bidang tersebut,” tambahnya. (man) 

 

Mahasiswa FKH IPB Ikut Serta Audiensi Ke Dirjend PP dan PL, Depkes

February 12, 2007

Bertempat di Kantor Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Departemen Kesehatan (depkes), Jakarta, Selasa (30/01/2007) sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Indonesia Tanggap Flu Burung (FMITFB) wilayah Jawa Bagian Barat melakukan audiensi dan diskusi. Kegiatan tersebut langsung diterima oleh Dr.I Nyoman Kandun,MPH selaku Dirjend PP dan PL, Depkes RI dan sejumlah pimpinan dalam lingkup dirjend PP dan PL serta tiga orang perwakilan mahasiswa FKH IPB sebagai anggota FMITFB.  Disampaikan dalam siaran persnya di kampus IPB Darmaga, Iwan Berri Prima selaku Koordinator FMITFB wilayah Jawa Bagian Barat yang juga merupakan ketua Umum IMAKAHI (Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia) dan mahasiswa FKH IPB (angkatan 40/2003) bahwa tujuan diadakan audiensi dan diskusi tersebut adalah selain sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan flu burung, juga untuk mencari informasi dan solusi yang baik dan benar terkait dengan kebijakan pemerintah, khususnya depkes, dalam pengendalian dan penanggulangan flu burung di Indonesia. Jangan sampai kebijakan pemerintah justru bertentangan dengan kepentingan rakyat banyak. Mengingat flu burung merupakan permasalahan yang cukup serius yang harus ditangani dengan arif dan bijaksana. Demikian kata Berry panggilan akrabnya dikampus IPB Darmaga. Selain itu, Dirjend PP dan PL menyampaikan bahwa setidaknya ada tiga hal yang diperankan mahasiswa dalam pengendalian dan penanggulangan flu burung di Indonesia, yaitu: Sebagai mitra pemerintah dalam memotivasi masyarakat untuk pengendalian flu burung, sebagai mediator dalam penyampaian upaya pemerintah dalam pengendalian flu burung dan sebagai evaluator kegiatan penanggulangan KLB Flu Burung di wilayahnya masing-masing, demikian ditambahkan Iwan Berri Prima.(***man)

IPB Melakukan Fogging di Sekitar Kampus

February 12, 2007

Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan Fogging, atau dengan kata lain penyemprotan nyamuk terhadap rumah tinggal di sekitar IPB, fokusnya di perumahan dosen (31/1) Kampus IPB Darmaga, Bogor . Hal tersebut dilakukan dalam rangka mencegah merebaknya bibit demam berdarah yang diakibatkan oleh nyamuk aedes aegypti. Sebagaimana dikatakan oleh Pakar Nyamuk dari FKH IPB, Dr. drh.Upik Kesumawati Hadi, MS., di Laboratorium Parasitologi dan Entimologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. ”Hal ini kita lakukan dalam rangka mencegah merebaknya penyakit demam berdarah, sebagaimana diberitakan di media masa, salah satu aksinya dilakukan di sekitar Kampus IPB,” ujarnya.

 Menurutnya, fogging yang efektif dilakukan saat pagi hari, waktu angin belum begitu kencang, dan saat aktivitas menggigit nyamuk tersebut sedang memuncak. ”Untuk nyamuk demam berdarah ini, fogging dilakukan di dalam dan di luar rumah, tetapi bukan di selokan-selokan seperti yang banyak kita lihat. Pada dasarnya fogging ini hanya efektif untuk membunuh nyamuk dewasa saja” ujarnya.

Ditambahkannya, bahwa penebaran ikan pemakan jentik seperti Gambussia sp, Panchax dan jenis ikan lainnya, atau spora Bacillus thuringiensis juga merupakan alternatif pengendalian larva nyamuk. Adapun jenis-jenis insektisida yang bisa digunakan untuk mengendalikan nyamuk juga banyak sekali. ”Tetapi tindakan yang paling bijaksana untuk mengatasi nyamuk adalah menghilangkan tempat perindukannya, dengan membersihkan tampat penampungan air minimal 1 minggu sekali,” ujarnya.

Dijelaskannya, nyamuk demam berdarah, aedes aegypti berwarna belang hitam putih, tersebar di daerah tropis, tetapi berasal dari Afrika. Habitat pradewasa terutama tempat-tempat air buatan manusia yang berisi air bersih di daerah urban dan suburban. Aktivitas menggigit mencapai puncaknya saat intensitas cahaya berubah yaitu setelah matahari terbit dan sebelum terbenam. Jarak terbangnya pendek yaitu 50-100 meter. Nyamuk demam berdarah, aedes albopictus, tersebar di daerah tropis dan subtropis
Asia, daerah tropis di Amerika Selatan dan Tengah.

Habitat pradewasa wadah-wadah air termasuk yang alami dan buatan di daerah urban, suburban dan rural. Aktivitas menggigit mencapai puncak saat perubahan intensitas cahaya tetapi bisa menggigit sepanjang hari dan tertinggi sebelum matahari terbenam. Jarak terbang pendek yaitu 50-100 meter. Nyamuk rumah, culex quinquefasciatus tersebar di daerah tropis dan subtropis.

Nyamuk ini menularkan penyakit kaki gajah atau filariasis wuchereria bancrofti. Habitatnya adalah saluran air yang kotor, septik teng, pit latrines, di daerah urban dan suburban. Aktivitas menggigitnya pada malam hari dan puncaknya pada jam 22.00-02.00. Nyamuk ini yang paling banyak mengganggu kita pada malam hari. Nyamuk malaria, anopheles dengan jenis-jenisnya antara lain An. maculatus, An. sundaicus, An. aconitus, An. barbirostris, An. vagus, An. balabacencis.

Habitatnya bervariasi tergantung spesies, mulai dari lingkungan pegunungan sampai pantai. Aktivitas menggigitnya malam hari (nokturnal). Jarak terbangnya juga bervariasi tergantung spesies. Nyamuk kebun, armigeres subalbatus, ukurannya lebih besar dibandingkan dengan nyamuk yang lainnya. Yang khas nyamuk ini berwarna hitam, bagian perutnya terdapat bercak-bercak putih, mempunyai probosis yang panjang dan melengkung ke bawah. Gigitannya sangat menyakitkan, bisa menggigit tubuh yang tertutup oleh baju. (man)