Ekspor produk kayu dari tahun ke tahun mengalami peningkatan pesat. Perdagangan kayu gergajian dimulai tahun 1978 dengan volume ekspor sebesar 0.8 ribu meter kubik, meningkat pesat pada tahun 2002 menjadi 16.363 meter kubik. Begitu pula ekspor kayu lapis dan pulp. Menurut informasi International Tropical Timber Organization (ITTO) tahun 2002 Indonesia menjadi pemasok utama pasar kayu lapis tropis dunia. Ekspor kayu lapis Indonesia pada tahun tersebut mencapai 5.82 juta meter kubik atau 49 persen dari total ekspor dunia. Ekspor pulp mulai berkembang tahun 1989 dan produksi terus meningkat seiring waktu sebesar 37.1 persen per tahun. Atas prestasi yang dicapai ini, satu sisi Indonesia patut bangga sekaligus prihatin. Sebab, dari mana diperoleh produk perdagangan berbasis kayu tersebut diperoleh?
“Perkembangan perdagangan produk berbasis kayu Indoensia sangat terkait dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan liberalisasi ekspor kayu bulat -reduce export taxes on logs- sesuai poin 17 Letter of lntens tahun 1998 dari International Monetary Fund (IMF). Kebijakan ini telah meningkatkan defisit pasokan kayu bagi industri perkayuan, sehingga membuka peluang praktek illegal logging (pembalakan) dan deforestasi,” urai Mahasiswa S3 Program Studi Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Inna Sri Supina Adi, dengan panjang lebar di tengah sidang terbuka bertajuk’ Perdagangan Produk Berbasis Kayu terhadap Deforestasi di Indonesia’ beberapa waktu lalu di Kampus IPB Darmaga. Selain itu, kebijakan pemerintah Indonesia yang “memaksa’ dibangunnya industri perkayuan (dengan inti industri kayu lapis) pada awal tahun 1980-an telah menyebabkan terjadinya ‘overcapacity’ industri perkayuan. Belakangan, pemerintah Indonesia memberikan prioritas dan insentif untuk pembangunan industri pulp dan kertas dengan kapasitas produksi yang sangat besar. Kebijakan ini tak lepas dari salah satu persyaratan yang ditetapkan debitor asing dalam pencairan utang baru. Hasil penelitian Inna menunjukkan di Sumatera, perdagangan pulp sangat pesat dengan kecenderungan terus meningkat. Di Kalimantan, Maluku dan Papuakencenderungan perdagangan kayu lapis dan kayu gergajian meningkat. Di Sulawesi, kecenderungan perdagangan kayu lapis meningkat, sedangkan kayu gergajian cenderung menurun. Penelitian ini dibawah Tim Komisi Ppembimbing yang terdiri dari Prof. Isang Gonarsyah, Dr I.S.S. Adi, , Dr Endang Suhendanng, dan Dr Hariadi Kartodiharjo. (ris)