IPB Peduli Banjir

By prohumasi

stitut Pertanian Bogor (IPB) turut prihatin terhadap bencana alam banjir yang menimpa saudara-saudara  kita di beberapa wilayah terutama di DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebenarnya, bencana seperti ini tidak perlu terjadi apabila kita dapat mengantisipasi sebelumnya. “Bencana dapat diminimalisasikan secara terintegrasi bersama dan berkeseimbangan, hal ini dapat dijadikan sebagai bentuk kepedulian kita bersama,” kata Kepala Kantor Prohumasi IPB, drh. R.P. Agus Lelana, SpMP, M.Si. Menurut Staf Pengajar Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, IPB Dr. Supriyanto yang juga Ketua Gerakan Penghijauan Peduli Banjir Jakarta dan Sekitarnya (GPPBJS), menegaskan permasalahan yang dialami Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek) karena  beberapa faktor antara lain, wilayah tersebut menjadi  Kota Megapolitan, kepadatan penduduk akibat urbanisasi, polusi baik industri dan kendaraan serta banjir tahunan dari sungai Ciliwung dan Cisadane. Banjir merupakan salah satu masalah yang sering dialami DKI Jakarta. ”Penyebab banjir Jakarta diantaranya karena curah hujan yang tinggi, adanya lahan kritis dan vegetasi kurang, resapan air menurun, waduk, situ dan saluran irigasi tidak berfungsi dengan baik,” ungkap Supriyanto. Dijelaskan, data sebaran curah hujan di Jabodetabek. Curah hujan tertinggi sekitar 3.000-3.500 milimeter per tahun terjadi di
kota dan kab. Bogor, dan terendah terjadi di DKI Jakarta dengan angka 1.700 milimeter per tahun.  Untuk kota Tangerang, Bekasi dan Depok sekitar 2000-3000 milimeter per tahun.  Ditambah lagi kegiatan pembangunan di DAS Ciliwung yang cenderung mengarah pada penurunan daya dukung lingkungan berupa penurunan kemampuan lahan dalam meresapkan air dan peningkatan laju erosi.  Kondisi ini menyebabkan tingginya limpasan air permukaan yang berakibat timbulnya banjir tahunan di DKI Jakarta. ”Oleh karenanya perlu transfer cost (kompensasi) dari daerah hilir ke hulu. Kompensasi ini, terangnya, sangat diperlukan dalam penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane,” ujarnya. 
Luas lahan kritis sampai dengan tahun 2004 di DAS Ciliwung telah mencapai sekitar 5.400 hektar, yang tersebar di Kabupaten Bogor sekitar 4.600 hektar, Kota Bogor sekitar 70 hektar dan Kota Depok sekitar 730 hektar. ”Lahan kritis tersebut perlu dibangun kembali dengan menaman jenis-jenis yang produktif dan disukai oleh masyarakat. Dengan demikian, penanganan DAS Ciliwung harus terpadu yang melibatkan dua propinsi, Jawa Barat dan DKI Jakarta,” imbuhnya. Sementara saat ini enam dari 20 situ yang dimiliki DKI Jakarta telah rusak parah. Yaitu, Situ Rawa Dongkal, Aneka Elok, Rawa Badung, Ria Rio, Kebon Melati, dan Pluit. Selain tercemar sampah dan limbah, pendangkalan terjadi oleh tumbuhan air. Solusi penanggulangan banjir, menurutnya, bukan hanya didasarkan pada civil engineering tetapi harus didasarkan pula pada Agricultural, Fisheries dan forestry engineering. ”Salah satunya dengan peningkatan resapan air melalui rehabilitasi hutan dan lahan (penghijauan),” tandasnya.  GPPJS dan IPB telah melakukan berbagai kegiatan seperti berbagai pelatihan, pembibitan dan penghijauan sebanyak 284.700 batang ditanam pada lahan 177,75 hektar, pengembangan sumberdaya manusia untuk Green School total peserta 603 orang, pembentukan kelompok tani. Kepedulian sivitas akademika juga ditunjukkan  Badan Ekskutif Mahasiswa  Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB,  ketika musibah melanda DKI Jakarta, mahasiswa mengumpulkan  dana sukarela dari masyarakat sekitar kampus. 

Teknologi Alternatif lain  Dari sisi teknologi terapan, seorang Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB),  Kamir R. Brata telah menerapkan.Lubang Serapan Biopore atau disingkat LRB. Teknologi  ini merupakan salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengatasi musibah banjir negeri ini. 

“Banyaknya lahan atau bangunan yang kedap air, menyebabkan air hujan yang turun tidak terserap tanah dan akhirnya membuat aliran permukaan hingga hilir. Inilah yang akhirnya menimbulkan banjir. Karenanya, diperlukan teknologi sederhana, tepat guna, mudah murah dan bisa dilakukan siapa pun,” kata Kamir pada wartawan Kamis (8/2) di kediamannya di desa Cibanteng Kecamatan Darmaga Bogor. Teknologi LRB diawali dengan pembuatan lubang sedalam 80 centimeter dan diameter 10 centimeter. Langkah selanjutnya adalah memasukkan sampah lapuk dua hingga tiga kilogram (tergantung jenis sampah) ke dalam lubang tersebut. “Sampah-sampah ini kemudian diurai oleh organisme pengurai sehingga terbentuk pori-pori,” jelas staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB ini. Dengan cara ini, air hujan yang turun tidak membentuk aliran permukaan. Melainkan meresap ke dalam tanah melalui pori-pori. “Jangan khawatir tanah akan menjadi lunak, karena air yang terserap akan tersimpan menjadi cadangan air di bawah tanah,” tambahnya.  Kamir menyarankan agar kedalaman lubang yang dibuat kurang dari satu meter. Apabila lebih dari itu cacing-cacing dan organisme pengurai lainnya kekurangan oksigen sehingga tidak dapat bekerja dengan baik.  Selain mempraktekkan proses pembuatan lubang, sempat ditunjukkan juga penerapan LBR di lahan percobaan Cikabayan, Kampus IPB Darmaga. Di lokasi tersebut saluran pembuangan dari lahan yang tertutup semen dilubangi dengan jarak antar lubang yaitu  satu meter. Ia mengatakan, LRB ini sangat tepat diterapkan pada pemukiman warga yang umumnya kedap air karena permukaaan tanah tertutup semen.  (nm/zul/ris)

Leave a Reply