Archive for January, 2007

Pembangkit Listrik Tenaga Biogas dari IPB

January 23, 2007

Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPTP- Fapet- IPB) telah mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga biogas. Biogas adalah gas hasil fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme anaerobic. Teknologi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai pengembangan bioenergi alternatif dari berbagai bahan organik.

“Selama ini biogas dikenal hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar keperluan rumah tangga khususnya untuk memasak saja, padahal biogas bisa juga dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit generator listrik,” ungkap Peneliti Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas IPB, Suhut Simamora sambil mempraktekkan kinerja generator listrik temuan IPB, Senin (22/1) di Rumah Pemotongan Hewan Kampus IPB Darmaga. Bersama rekannya yang juga staf IPTP-Fapet-IPB, Salundik dan Sri Wahyuni, Simamora mengembangkan teknologi pengolahan biogas IPB.

Kelebihan bahan bakar biogas untuk memasak ialah menghasilkan nyala biru dan panas yang sama dengan LPG, tidak beracun, tidak berbau, serta tidak menimbulkan jelanga.

Proses produksi biogas terbilang sederhana. Bahan utamanya ialah campuran feses, urine (air kencing), dan sisa pakan (bahan organik) dengan pengenceran air. Perbandingan air dan kotoran adalah 2 :1. Nilai kalor biogas ditentukan oleh gas methan (CH4) dan karbon dikosida (CO2). Bahan utama kemudian ditampung dalam digester (pencerna bahan organik) disesuaikan dengan kapasitas dan jumlah ternak. Pengisian pertama harus sudah tercipta kondisi anaerob. Waktu tunggu pengolahan biogas 13-20 hari dari isian pertama. Digester dengan kapasitas 3 meter persegi bisa menampung kotoran 2 – 4 ekor ternak sapi dewasa dan menghasilkan gas bio sebanyak 1800 liter. Biogas sebanyak ini cukup untuk kebutuhan memasak keluarga (5 orang anggota keluarga tiap harinya).

“Biogas ini mampu mensubtitusi kebutuhan minyak tanah suatu pembangkit listrik. Setiap satu liter biogas mampu menghasilkan energi listrik setara dengan kemampuan 1.4 liter minyak tanah,” kata Simamora. Generator pembangkit listrik IPB mampu menghasilkan listrik maximum output power 500 watt dan 700 watt serta menerangi selama 4-6 jam. Hal ini disebabkan keterbatasan mesin generator listrik yang memerlukan pendinginan setelah 4-6 jam pemakaian.

Total biaya instalasi biogas lengkap dengan digester semen dengan kapasitas 5-7 meter kubik sebesar antara Rp 12.5 juta hingga RP 15 juta. Digester dengan kapasitas ini mampu mengolah kotoran sapi sebanyak 5-15 ekor sapi. Sedangkan biaya instalasi digester fiber glass lengkap dengan kapasitas 4 meter kubik lengkap sebanyak Rp 7 juta. Digester fiber glass mampu mengolah kotoran 2 ekor sapi dewasa. Biaya tersebut mencakup penyediaan kompor gas, digester, saluran distribusi, biaya penggalian, pembuatan bak masukan dan keluaran kotoran, generator dan lain-lain.

Selain biogas, dari proses pengolahan kotoran ini diperoleh limbah padat dan cair yang keduanya dikembangkan IPB sebagai pupuk. “Setiap satu kali proses produksi biogas, IPB memperoleh 200 liter limbah cair dan padat. Limbah ini dicampur darah -limbah pemotongan hewan- sebagai sumber Nitrogen (N), tepung tulang sebagai sumber Phospor (P) dan bakaran sekam sebagai sumber Kalium (K). Dari campuran tersebut terbentuklah pupuk NPK,” jelas Simamora. (Aris Solikhah)

NIRWANA dan GESIT, Ikan Nila Varietas Baru

January 23, 2007

Prof. Dr. Komar Sumantadinata, staf pengajar pada Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (BDP-FPIK-IPB),
pada pertengahan Desember 2006 telah mendapatkan penghargaan sebagai tenaga ahli pemuliaan ikan dari Gubernur Jawa Barat pada upacara rilis nila NIRWANA
(nila ras Wanayasa). Penghargaan yang sama juga diperoleh dari Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk pemuliaan ikan nila GESIT
(Genetically Supermale Indonesian Tilapia). Pemuliaan ikan nila NIRWANA merupakan kerjasama antara Pemerintah Daerah Jawa Barat dan BPPT, sedangkan pemuliaan ikan nila GESIT bekerja sama dengan BPPT dan Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT–DKP) Sukabumi.

Pemuliaan ikan nila NIRWANA berlangsung selama 3 tahun (2003–2006) di Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa, Purwakarta. Ikan nila NIRWANA
merupakan hasil seleksi famili dengan bahan dasar ikan nila GIFT (Genetic Improvement Farm Tilapia) dan nila GET (Genetically Enchanced Tilapia) dari Filipina.
Pertumbuhan bobot ikan nila NIRWANA meningkat sekitar 45% pada generasi ke–3 (F3) dibandingkan dengan populasi awalnya. Seleksi lebih lanjut terus dilakukan, untuk mendapatkan varietas ikan nila yang semakin baik pertumbuhannya. Varietas ikan nila ini bermanfaat untuk peningkatan produksi ikan.

Berbeda dengan ikan nila NIRWANA, pemuliaan ikan nila GESIT p diarahkan untuk memproduksi benih ikan nila monosex jantan (penjantan saja). “Pada ikan nila, ikan jantan tumbuh lebih cepat. Yakni lebih dari 50% dibandingkan dengan betina,” kata
Komar. Dengan penyediaan benih monosex jantan, diharapkan terjadi peningkatan produktivitas ikan secara nyata. Ikan nila GESIT adalah ikan nila jantan dengan kromosom sex YY. Yang dibuat dengan metode rekayasa kromosom sex ikan nila jantan normal (kromosom XY) dan betina (kromosom XX). Pemuliaan memerlukan waktu sekitar 6 tahun di Kolam Percobaan IPB Darmaga (2001–2004) dan di BBPBAT
(2002–2006). (Aris Solikhah)

Tugas Akhir SMA I Cibinong : Menyusun Sejarah IPB

January 23, 2007

Sebanyak 120 siswa dan 8 guru Sekolah Menengah Atas (SMA) I Cibinong melakukan study tour ke Institut Pertanian Bogor (IPB) Selasa (16/1) di Auditorium Rektorat Kampus IPB Darmaga. “Kami memilih IPB sebagai tujuan study karena banyak siswa kami yang berminat masuk ke sini. Setiap tahun siswa SMA kami paling banyak masuk IPB. Hal ini mendorong adek-adek kelasnya mengikuti kakak kelas sebelumnya,” ujar Wakil kepala Sekolah SMA I Cibinong sekaligus ketua rombongan, Dra. Siti Warhami.

Tahun ini, SMA I Cibinong membagi kunjungan study tour-nya ke dua tempat. Sebagian melakukan kunjungan ke Yogyakarta dan sebagian lagi ke IPB. “Kunjungan masing-masing siswa ini merupakan salah satu rangkaian penyelesaian paper tugas akhir. Untuk IPB, siswa diwajibkan menyusun sejarah dan segala sesuatu terkait IPB seperti profil departemen serta fakultas yang ada di sini,” kata Siti pada Reporter Prohumasi IPB.

Ditanya mengenai prestasi yang diraih SMA-nya, Siti mengungkapkan, tahun 2006 lalu, SMA I Cibinong berhasil meraih juara II Olimpiade Astronomi tingkat nasional dan salah satu siswanya terpilih mewakili Bogor sebagai pasukan pengibar bendera (paskibra) di Istana Negara. “Kami ingin siswa SMA I Cibinong tidak hanya maju dalam bidang akademik namun juga bidang eskul. Alhamdulillah siswa mau ikut maju
juga,” jawab perempuan asal Yogya ini saat ditanya prestasi sekolah yang diraih.
Rombongan ini disambut langsung oleh Kepala Bidang Promosi Kantor Promosi Hubungan Masyarakat dan Alumni IPB, Dr. Winarso Dradjat Widodo. Usai diskusi dan tanya jawab, rombongan menuju ke Asrama Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB untuk melihat langsung pembinaan multibudaya di sana. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan ke Museum Peta dan Kebun Raya Bogor. (Aris Solikhah)

Perlunya MCS dalam Pembangunan Kelautan

January 23, 2007

Kekayaan sumberdaya alam dan posisi strategis wilayah kelautan yang berlimpah dapat memancing pihak-pihak tertentu untuk melakukan eksploitasi dan memanfaatkannya secara illegal. Oleh karenanya, masalah monitoring, control and surveillance (MCS) atau pemantauan, pengendalian dan pengamatan lapangan
serta evaluasi wilayah laut Indonesia merupakan isu strategis yang harus diselesaikan.

Penegasan itu disampaikan dr. Harmin Sarana, SpB., saat mempertahankan disertasinya berjudul “Desain Sistem Monitoring Control and Surveillance Nasional dalam Pembangunan Kelautan Indonesia”, pada ujian akhir studi Doktor Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat (12/1). Ujian yang mengambil tempat di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Kampus IPB Darmaga itu dipimpin oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof.Dr.Ir. Khairil Anwar Notodiputro,MS.

Bertindak sebagai penguji utama adalah komisi pembimbing yang diketuai oleh Prof.Dr.Ir. John Haluan, M.Sc., dengan anggota Prof.Dr.Ir. Daniel R. Monintja, M.Sc., Dr. Tommy H. Purwaka, SH, LLM., dan Dr.Ir.Hartrisari Hardjomidjojo, DEA. Sementara, penguji tambahan adalah penguji luar komisi, yaitu Prof.Dr. Sapto J. Purwowidagdo, M.Sc (Rektor Universitas Hang Tuah Surabaya) dan Dr.Ir. Husni Mangga Barani, M.Si
(Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan RI).

Harmin mengatakan, masalah MCS menjadi salah satu isu nasional yang sangat penting. Mengingat kerugian yang dialami Indonesia sangat besar, sebagai akibat
berbagai pelanggaran hukum seperti illegal fishing, illegal migrant, illegal logging dan illegal mining.

Dikatakan, MCS merupakan sistem yang telah dipergunakan di banyak negara. Di Indonesia sendiri, sistem MCS telah mulai dirintis untuk dilaksanakan.
Namun, masih bersifat parsial dalam bagian-bagian yang berdiri sendiri-sendiri serta bersifat sektoral.

Menurutnya, skenario kebijakan optimistik dengan syarat pengembangan kebijakan pemerintah, menjadi prioritas skenario yang mungkin dilaksanakan. Pada skenario ini perlu pengembangan sistem MCS secara terintegrasi, dengan dukungan pemerintah pada pengembangan MCS kelautan dan perikanan.

“Adanya good governance yang dilengkapi dengan berbagai peraturan perundangan yang mendukung, dukungan internasional dalam wujud kerjasama dan pengakuan secara internasional, serta dilaksanakan oleh kelembagaan yang terpadu dan sinergis dengan SDM yang professional dalam bidangnya,” paparnya menjelaskan. (Nunung Munawaroh)

Tahun 2007, IPB Lakukan Restrukturisasi Organisasi

January 23, 2007

Lepas masa transisi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan restrukturisasi organisasi dengan mengurangi dan menggabungkan jumlah wakil rektor serta direktorat/kantor selevel biro dalam acara sosialisasi yang digelar tajuk ‘Pertemuan Awal Tahun 2007, Selasa (9/1) di Gedung Graha Widya Wisuda Kampus IPB Darmaga.

Dihadapan dosen dan pejabat teras, Rektor IPB, Prof. Dr. Ahmad Ansori Mattjik, M.Sc. menjelaskan, konsep restrukturisasi ini sedang dikaji oleh Majelis Wali Amanat (MWA) dengan harapan implementasi organisasi ini mencapai sasaran.

“Tujuan dari restrukturisasi organisasi ini untuk meningkatkan efisiensi organisasi, kinerja, dan efektifitas koordinasi antara unit kerja,” kata Rektor IPB. Restrukturisasi ini merupakan hasil kajian Kantor Perencanaan dan Implementai Otonomi (KPIO) IPB dan diperkuat hasil kajian dari lembaga independen (second opinion) yang menunjukkan adanya tugas pokok dan fungsi direktorat/kantor pada rektorat (kantor pusat) yang saling tumpang tindih, serta beban kerja dari direktorat/ kantor yang tidak merata. Oleh karena itu, jelas Rektor IPB, perlu dilakukan pengelompokan kembali (regrouping) fungsi dengan mengubah tugas pokok dan fungsi dari masing-masing direktorat/kantor, perubahan dan perampingan organisasi IPB.

IPB berencana mengurangi jumlah empat wakil rektor menjadi tiga wakil rektor. Yakni dari Wakil Rektor bidang akademik, bidang keuangan, sumberdaya manusia dan administrasi, bidang kemahasiswaan, humas dan alumni serta bidang kerjasama dan pengembangan, berubah menjadi bidang akademik dan kemahasiswaan, bidang administrasi dan kerjasama, serta bidang penelitian, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu contoh direktorat/kantor yang mengalami penggabungan yaitu direktorat kerjasama dan kantor program internasional berubah menjadi kantor intenasional dan kemitraan.

Rektor IPB menambahkan, pada tahun 2007 ini ada pekerjaan besar yang perlu diselesaikan diantaranya memantapkan diri sebagai embrio research university, menjajaki posisinya sebagai world class university dan mengembangkan berbagai bentuk generating income demi peningkatan kesejahteraan pegawai. “Sebagai embrio research university, IPB mengembangkan ilmu teknologi, mencari pemecahan kontrak riset, menganalisis dan menginventigasi iptek melalui penemuan hasil-hasil penelitian,” ujar Rektor IPB. Prasyarat embrio research university ini antara lain sumberdaya manusia berkualitas, peningkatan

jumlah publikasi berkualitas, dihasilkan teknologi handal untuk industri dan masyarakat, dan mulai perintisan kerjasama Academis, Businessman, Government-Community (ABG-C) yang bermanfaat. Disamping, produk-produk berkualitas yang diterima pasar (benih, alat, produk hulu dan hilir) dan kesejahteraan seluruh pegawai (finansial dan kesehatan).

Dalam kesempatan yang sama usai pidato Rektor, Budayawan Nasional, Taufiq Ismail melakukan orasi budaya di hadapan dosen-dosen IPB. Alumni Fakultas Kedokteran IPB ini, mengangkat tema ‘Budidaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka’.

Orasi tersebut berisi keprihatinan mendalam terhadap kondisi sosial masyarakat yang digilas oleh apa yang disebut dengan Gerakan Syahwat Merdeka (GSM). “Komponen-komponen GSM ini diantaranya praktisi dan pelaku sehari-hari seks bebas hetero dan homo, penerbit majalah dan tabloid mesum, produsen, penulis

skrip dan pengiklan acara televisi syahwat, situs porno di internet, penulis sastra syahwat,” ujar Taufiq.

Komponen lain, orang-orang yang terlibat alkohol, nikotin, narkoba, dan dukun serta dokter aborsi. Menurut Kakek bercucu satu ini, GSM terkoordinasi bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi, merusak moralitas dan tatanan sosial. “Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya,” tandasnya ditengah dosen dan pejabat teras IPB.

Menurut suami dari Esiyati Yatim ini, akibat dari GSM, pemerkosaan, perzinahan (prostitusi), aborsi, kejahatan, dan penyakit kelamin khususnya HIV-AIDS meningkat pesat. (aris/rahman/zule/nunung)

Khitosan Bunuh Rayap Hingga 94 Persen

January 10, 2007

Peneliti muda asal Fakultas Kehutanan Insitut Pertanian Bogor ( Fahutan-IPB), Arinana, telah meneliti formula khitosan yang mampu membunuh basmi rayap Coptotermes curvignathus. Salah satu jenis rayap bangunan yang menyebabkan kerugian ekonomis paling besar. Pada tahun 2000 saja, diperkirakan kerugian
yang ditimbulkan rayap ini mencapai Rp 1, 4 trilyun.

Hasil uji Arinana, dari delapan konsentrasi khitosan yakni 0 persen (kontrol), 0.25 persen, 0.5 persen, 1 persen, 2 persen, 3 persen, 4 persen dan 5 persen, konsentrasi 4 persenlah yang memberikan pengaruh tertinggi. Konsentrasi khitosan 4 persen mampu membunuh rayap hingga 94,2 persen.

Khitosan yang dipergunakan Ari berasal dari khitin Litbang Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Jakarta. Khitin diekstraksi menjadi khitosan dengan penambahan NaOH 60%, lalu dipanaskan pada suhu 70 derajat celsius selama 24 jam. Padatan yang diperoleh, dicuci dengan air sampai pH (keasaman) berubah netral, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu yang sama (70 derajat celsius, 24 jam).

Khitosan ini lalu dilarutkan sesuai konsentrasi yang dibutuhkan. Kertas saring berdiameter 8 centimeter dipotong berbentuk lingkaran dan direndam 24 jam dalam
larutan khitosan tadi. Di atas cawan petri berpasir steril, kertas saring yang sudah direndam diumpankan rayap. Selama 21 hari, rayap memakan kertas saring.
Rayap-rayap tersebut tak menolak mengkonsumsinya. Akibatnya, rayap-rayap tersebut mati teracuni.

Menurut hasil penelitian Allan dan Hadniger dalam El Ghaouotgt-A, khitosan mempunyai kemampuan biokatif polikation alami yang menghambat kapang dan jamur
patogen. Diantaranya jamur tanah seperti Fusarium oxysporum dan Rhizoctania solani. Khitosan dikethaui juga menghambat germinasi (perkecambahan) spora dan
pertumbuhan kapang Bothria cineria dan Rhizopus stolonifer pada buah strawbery. Khitosan juga terbukti mampu menghambat pertumbuhan pelapuk kayu S. commune dengan presentase penghambatan berkisar antara 27.43 persen sampai 87.69 persen.
Penggunaan khitosan sebagai alternatif pembasmi rayap menekan biaya perawatan bangunan yang terbuat dari kayu dan selulose. (Aris Solikhah)

Bakteri Endofit Tekan Populasi Blood Disease Pisang

January 10, 2007

Bulan Agustus 2006 kemarin, sebanyak 24 ribu hingga 30 ribu rumpun pisang pada lahan seluas 60 hektar di kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan mati karena penyakit darah ( blood disease) pisang. Seranan tersebut dikategorikan sangat berat degan persentasi 24- 37.5 persen.

Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan seperti sanitasi dengan cara mengangkat bonggol yang sakit dan aplikasi herbisida untuk membunuh tanaman yang
diserang. Sayangnya, upaya tersebut masih belum efektif.

Abdjad Asih Nawangsih, Peneliti Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) meneliti kemampuan isolat bakteri endofit dalam
menekan populasi penyakit darah pisang. Bakteri endofit adalah bakteri yang hidup dalam jaringan tanaman bagian dalam.

Isolat bakteri endofit tanaman pisang diperoleh melalui isolasi dengan metode plating (pencawanan). Potongan batang atau akar yang tebalnya 10 cm kemudian dicuci bersih dan diterilkan dalam Na OCL 2 % yang mengandung 0.1 Tween 20 selama 10 detik. Lalu potongan ini dihancurkan dan diencerkan kemudian disebarkan secara merata pada cawan petri yang berisi media Nutrien-Broth Yeast Extract Agar.
Sebanyak 8 isolat bakteri endofit diujikan kemampuan penghambatannya pada bakteri penyebab penyakit darah (BDB). Uji ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama
dengan media cair yakni King’s B Agar (KBA) untuk mendeteksi pembentukan zone hambatan. Tahap kedua menggunakan media King’S B Broth (KBB). Dari kedua tahap tersebut hanya satu isolat yang mampu menekan populasi Blood Disease Bacterium. Isolat ini diidentifikasi sebagai Bacillus cereus dan Pseudomonas fuorescens. (Aris Solikhah)

Kunjungan Korea, IPB Kembali Terpilih Sebagai Tuan Rumah

January 10, 2007

IPB cukup berbangga karena sudah 4 tahun terpilih sebagai tuan rumah Perguruan Tinggi untuk menerima kunjungan mahasiswa Korea yang disponsori oleh the Pacific Asia Society (PAS) yang didirikan pada 12 Juli 1994. Pada tahun ini IPB menerima 19 mahasiswa dan 3 orang supervisi (Dosen) yang langsung dipimpin oleh Dr. Chang Sung Keun, Ph.D (Presiden dari Open Cyber University, OCU) didampingi Istri, dan Mr. Kim II Woong beserta istri, serta Mr. Lee Suk Chul.

Dalam acara penerimaan rombongan di Kampus IPB Darmaga, Selasa, (9/1), Wakil Rektor III, Prof. Dr. Ir. Yusuf Sudo Hadi. M.Agr., mengatakan bahwa hal ini dapat menjadi point yang membanggakan bagi IPB karena menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi yang terpilih di Indonesia .

“Selama di IPB, mereka berencana untuk melakukan beberapa kegiatan yang meliputi pengenalan bahasa, budaya dan cara hidup. Pada intinya, akan memberikan pemahaman bersama antara mahasiswa Korea dan Indonesia ,” papar WR III.

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan IPB, Dr. Rimbawan, menambahkan, rombongan Korea tersebut selama di Bogor akan menginap di Wisma Tamu IPB (Landhuis) dan Asrama Amarilis sampai tanggal 27 Januari 2007.

“Dalam kunjungan ini mahasiswa IPB dapat belajar bahasa Korea , permainan rakyat tradisional Korea , musik tradisional Korea , menggambar dan kaligrafi, menyaksikan drama dan film Korea , seni melipat kertas dan mengadon gypsum, festival makanan Korea , Body painting dan kesenian balon. Sedangkan untuk IPB sendiri kita akan menampilkan kesenian tradisional sunda dari Gentra Kaheman, dan dari UKM-UKM lainnya”, ujarnya.

Kepada tim Pariwara IPB, Dr. Chang mengatakan, program ini bertujuan untuk mempersatukan pemuda-pemuda yang ada di wilayah Asia Pasifik. “Kami masih tetap setia memilih IPB sebagai tempat untuk pembelajaran bagaimana hidup di Indonesia , karena IPB merupakan kampus yang bersih dan mempunyai mahasiswa yang aktif-aktif,” ujar Chang.

The Pasific Asia Society merupakan suatu badan non profit dan non government yang telah banyak mensponsori beberapa program. Diantaranya, Pacific Asia Network (PAN) International Congresses, PAS Youth Corps Cultural Exchange Program for Collegee Students, dan lain sebagainya. (siti zulaedah)

IPB Lepas 642 Pemeriksa Hewan dan Daging Qurban

January 10, 2007

Sebanyak 603 mahasiswa dan 39 dosen petugas pemeriksa dan pengawas hewan dan daging qurban Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH-IPB)
dilepas secara resmi oleh Rektor IPB, Prof Ahmad Ansori Mattjik Jum’at (29/12) di Ruang A FKH IPB Kampus IPB Darmaga. “ Pemeriksa dan pengawas dari FKH IPB ini memeriksa hewan dan daging qurban, mencegah penyakit hewan dan menjamin kualitas dan keamanan daging qurban agar halal serta higienis,“ ungkap Rektor IPB.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat. Bagi IPB, khususnya Fakultas Kedokteran Hewan, kegiatan ini diharapkan juga menjadi jembatan kerjasama-kerjasama lain. “Saya ucapkan selamat menunaikan tugas bagisukarelawan dan semoga dapat melaksanakan kepercayaan
masyarakat sebaik-baiknya,” kata Rektor IPB.

Dalam upacara pelepasan itu, dua orang mahasiswa, Rozqi Putratama dan Dina Lucianty, secara simbolik menerima peralatan pemeriksaan di lapang. Keduanya
dipakaikan baju khusus laboratorium dan dibekali termometer, stetoskop, pisau dan peralatan medis kedokteran hewan lain. Peralatan tersebut sangat penting dalam pengawasan baik sebelum pemotongan (pemeriksaan antemortem), pengawasan proses pemotongan, pemeriksaan setelah pemotongan (pemeriksaan postmortem) dan pengawasan peredaran daging.

Dekan FKH , Dr drh H. Heru Setijanto didampingi Ketua Panitia Upaca Pelepasan, Drh.Hadri Latif, M.Si mengatakan, maksud pengawasan pemotongan hewan qurban
ini harus dilakukan oleh dokter hewan yang berwenang atau petugas pemeriksa hewan yang ditunjuk oleh dokter hewan yang berwenang.

“Tujuan pengawasan tersebut antara lain untuk mencegah pemotongan hewan yang sakit dan memantau penyakit hewan menular terutama yang bersifat zoonosis
(penyakit yang ditularkan oleh hewan kepada manusia) serta menjamin keamanan dan kualitas daging,” jelas Heru.

Dari tahun ke tahun permintaan pemeriksa dan pengawasan hewan serta daging qurban di wilayah Jawa Barat meningkat. Namun, karena keterbatasan sumberdaya
kedokteran hewan IPB sehingga permintaan tersebut terpaksa belum bisa dipenuhi.

Para sukarelawan tersebut akan diterjunkan ke beberapa lokasi antara lain DKI Jakarta (25 orang ), Jakarta Utara (54 orang), Jakarta Selatan (54 orang), Jakarta
Barat (54 orang), Jakarta Timur (54 orang), Jakarta Pusat (54 orang), Kabupaten Bogor (111 orang), Kota Depok (71 orang), Kota Tangerang (38 orang), Kota
Bogor (107 orang), Lingkar Kampus (8 orang) dan pemantau hari H (6 orang). Kerjasama pengawasan qurban antara IPB dan masyarakat sudah dimulai sejak dari 20 tahun silam. (Aris Solikhah)